Rabu, 30 Januari 2019

Mencari Guru




*Habib Cokelat* Bag 1

Habib cokelat atau mastur tidak terkenal didominasi Adzmatkhan dzuriat keturunan walisongo yg mayoritas Jadi Pembesar NU, sebagian al aydrus berganti albanjari banyak turunanya dibanjar kalimantan, alhasani sekitaran dataran sunda dan jawa dan pulau laen,basyaiban banyak dipulau jawa anggawi sekitaran jatim dll. Habib coklat umumnya gadiketahui kehabibannya kecuali oleh yg  kasyaf /waskito atau ahli makrifat, Allahu a'lam.

Menarik untuk disimak, beberapa waktu lalu Habib Luthfi dari Kota  Pekalongan pernah berpesan bahwa di tanah Jawa itu ada beberapa wali yang selalu berdoa kepada Gusti Allah untuk ketenteraman negara ni agar terhindar dari berbagai musibah dan bencana. Diantaranya yaitu sunan Gunung Jati sunan Bonang dan sunan Derajat serta sunan Ampel.
Jika kita amati, Mereka adalah para dzuriyah nabi - habaib yg telah melebur dengan penduduk lokal Jawa, sehingga mungkin tampilan fisiknya agak mirip dengan orang-orang pribumi. Tidak seperti tampilan fisik para habaib sekarang yang ada saat ini yang begitu mudah dikenali.

Seoarang kyai sepuh jaman penjajahan Belanda dahulu pernah berpesan kepada anaknya kemudian pesan itu diteruskan kepada anaknya lagi, yakni  carilah habib njowo atau habib cokelat kemudian  ngajilah sama beliau, mintalah diakui sebagai santrinya.

Sang anak sempat bertanya kepada bpak kyai sepuhnya itu kenapa harus dicari, bukankah jika guru yang hebat iku pasti terkenal seantero negeri.

Sang kyai sepuh yang belum sempat menikmati NKRI merdeka iku tersenyum dan kembali berpesan.
Habib cokelat ini, beliau tidak akan mudah dikenali karena sudah melewati satu ilmu tingkat tinggi dimana ilmu tersebut sudah pernah diimplementasikan dipraktekan oleh Njeng Nabi Muhammad kakek buyut mereka, jadi ilmu ini adalah ilmu yang bukan sekedar teori dari sumber tekstual semata.

Semakin bingung dan penasaran, si anak bertanya lagi, ilmu apakah itu bah....?

Sang kyai sepuh ini menjelaskan dengan serius.
Ilmu itu yakni ilmu legowo ati. Ilmu yang mudah diucapkan tapi susah untuk diamalkan. Sebagaimana kakek buyut mereka yakni Njeng Nabi Muhammad legowo dicaci maki,  dilempari batu maupun hendak dibunuh oleh kaum kafir quraisy yang kelak menjadi umatnya padahal beliau bermarga Bani Hasyim yakni keturunan yang disegani oleh kaum arab pada masa itu,
Para habaib cokelat ini pun mereka legowo menyembunyikan jati diri asli mereka, rela melepaskan marga mereka. Bahkan mereka juga tidak terdeteksi dari segi tampilan fisik bahwa  mereka asli orang dari suku-ras arab, karena bapak kakek buyut mereka telah menikah dengan penduduk pribumi.

Sang anak kemudian mulai sedikit paham, dan kembali bertanya. Bagaimana ciri khusus untuk mengenali habib cokelat ini ?

Sang kyai menjawab
Jangan cuma kau lihat dari pakaian jubahnya
Atau Dari jenggot dan jidah hitamnya atau dari sering tidaknya beliau  tampil di berbagai media maupun berita.

Namun.....

Jika kau mampu pelajari dan telusurilah sejarah asal-usul orangtuanya smpai sanad terakhir kepada kakek-buyutnya.

Tapi jika itu susah bagimu, cara termudah adalah
lihatlah akhlaknya
lihatlah perangainya
lihatlah budi pekerti si habib cokelat ini.
Namun bukan sekedar dilihat tetapi rasakanlah tautan hati nuranimu kepada beliau.
Sekalipun tampilannya adalah seorang gelandangan bisa saja beliau adalah habib cokelat yang identik disebut dengan wali. Maka lima panca indera saja tidak cukup untuk mendeteksinya. Gunakanlah hati nuranimu.

Karena akhlak itu adalah warisan yang sesungguhnya dari kakek buyut si Habib cokelat ini  yakni Njeng Nabi Muhammad - Nabi Rahmatan lil 'aalamin.

Ditulis oleh
Cucu ne Kyai Jadoel
Comal, akhir 2018
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Kita Ajak Masyarakat Untuk Menuju Ridlo Allah Subhaanahu Wata'aalaa

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.